Sabtu, 23 Mei 2009

Sebaik baik urusan adalah yang tengah - tengah

" Sebaik baik urusan adalah yang tengah - tengah "

(Al Hadits)

Sahabat maya, mungkin pernah mendengar hadits diatas, rangkaian kalimat yang sederhana tetapi mengandung makna yang mendalam.
Ketika kehidupan sudah menjadi sangat komplek, berbagai isme dan informasi terus menerus berkembang. menyebar tidak lagi mengenal jarak dan waktu. seperti berita paling aktual bulan Nopember 2008 ini, tentang kejadian terbaru proses eksekusi terpidana bom Bali 1 hanya butuh beberpa menit pasca eksekusi, kita sudah dapat mengetahuinya, begitu juga ketika senator obama barack husain memenangi pemilihan presiden di Amerika, kita sudah bisa live dan langsung menyaksikan pidato kemenangananya. Belum lago pro kontra perlu atau tidaknya da undang undang yang mengatur urusan sahwat, biasa di kenal dengan Undang Undang Pornografi dan porno aksi.Semua informasi tsb akan berbekas dan mempengaruhi cara berpikir kita dalam kehidupan sehari-hari.belum lagi isme dan paham paham lainnya, ketika kita tidak lagi jernih menyikapinya, kita akan terseret dalam ketidakjelasan dan keragu-raguan, yang akhirnya bisa merubah cara pandang kita.

Sahabat maya, penulis akan mencotohkan beberapa hal yang sering kita lihat sehari hari, dan bagaimana seharusnya kita menyikapinya.

Contoh pertama, bagi sahabat maya yang muslim, mungkin pernah mendengar organisasi masa (ormas) terbesar di indonesia yaitu NU dan Muhamadiyah. Dua ormas ini sangat menjadi besar karena banyaknya masa dan anggotanya yang tersebar di seluruh Indonesia bahkan mancanegara. Hal menarik dari dua ormas ini adalah pemahaman dan cara pandang dalam penafsiran kegiatan-kegiatan peribadahan, baik ibadah yang bersifat individu dan ibadah bersifat sosial. kita ambil contoh adalah, kegiatan Tahlilan pasca kematian sesorang. Dikalangan organisasi Nahdliyin tahlilan menjadi kegiatan yang selalu dilakukan dikarenakan kegiatan ini menjadi pelipur lara bagi keluarga yang ditinggalkan. tetapi sebaliknya, bagi sebagian masyarakat organisasi muhamadiyah, ini dipandang tidak perlu (penulis tidak mengatakan dengan istilah Bid'ah, karena perlu pemahaman khusus untuk mampu mengatakan hal ini) dengan alasan Rasulullah tidak pernah mencotohkan ini, dan takut memberatkan keluarga yang sedang berduka, karena harus menyediakan konsumsi yang tentu akan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit tentunya.Point penting yang ingin penulis bahas dicontoh ini adalah ketika dua pandangan ini tidak disikapi dengan bijak, sering terjadi class atau konflik sosial. kenapa menjadi konflik sosial, karena kalau kita undang masyarakat yang berpaham ormas muhamadiyah tadi, biasanya tidak mau ikut tahlilan, nah bagi masyarakat yang mengundang, tentu ini menjadi persepsi sendiri, "Diundang kok nggak datang ? ", tidak bersosial dan pendapat-pendapat miring lainnya.Kalau kita tidak sikapi ini dengan mencari jalan tengahnya, ini bisa menggangu keharmonisan suatu masyarakat. Nah, kembali ke hadits diatas, ada solusi indah yang biasa penulis lakukan, yaitu menjadi orang yang ditengah-tengah. penulis tetap datang dengan niat, Silaturahmi dan Takziyah, jika memang ada makanan atau biasanya bungkusan yang sering diberikan diakhir tahlilan, penulis tetap akan menerimanya, dengan niat selanjutnya untuk diserahkan ke orang lain yang lebih membutuhkan, terlepas Rasulullah apa pernah melakukan ini atau tidak, setidaknya kita sudah menghargai sebuah undangan dan tentu saja tetap memegang teguh pendapat kita. sekali lagi, sebaik-baiknya urusan adalah yang tengah-tengah.

Contoh lain yang tak kalah menarik adalah tentang pro kontra Undang Undang Pornografi, kalau kita lihat di televisi akhir-akhir ini, marak sekali demo yang dilakukan masyarakat, baik kalangan masyarakat yang pro atau masyarakat yang kontra. Hal menarik dalam kasus ini adalah, bisa saja, yang melakukan demo, belum membaca bahkan tidak pernah tahu bagaimana isi draft undang undang tsb. pokoknya ikut demo. tidak perduli akan menggangu aktifitas sosial, karena biasanya jalanan menjadi macet dan tentu saja banyak sampah yang berserakan pasca demo tsb. Solusi indah yang penulis sarankan adalah, baiknya kita pahami dulu draft undang undang tsb, bahas secara baik baik dan bersama sama di forum yang formal. untuk selanjutnya, kita sampaikan ke perwakilan kita di DPR.Toh, selama undang undang tersebut memang untuk kebaikan, kenapa kita harus menolaknya. kalau memang kita tidak pernah melakukan hal tsb, kenapa harus takut. penulis minta maaf, bukan penulis pro atau kontra, karena penulis sendiri belum pernah tahu isi draft undang undang tersebut.Banyak lagi contoh lainnya, penulis sekali menekankan, mari kita cari solusi indah, yang isinya tidak merugikan salah satu pihak. dan seandainya kita belum menemukannya, kita selalu berdoa untuk diberi jalan tengahnya.tanyakan hati nurani kita, manakah yang terbaik.
Hal menarik lainnya, adalah dalam kehidupan sehari hari, penulis juga selalu dalam posisi tengah-tengah, seperti menjadi anak ke 4 dari 6 bersaudara. dan tentu saja 3 orang laki-laki dan 3 orang perempuan.
Lulus kuliah dengan nilai IPK tengah-tengah, tidak cumlaude dan tidak dibawah 3.00, lumayan IPK 3.25
Masih tentang kuliah, lulus tidak terlalu cepat dan tidak MAPALA (Mahasiswa paling lama), yaitu 4.5 tahun.

Bekerja disebuah perusahaan yang posisinya juga tengah-tengah, yaitu manager area (salah satu fungsinya menjadi mediator bagi staf dibawahnya jika ada permasalahan dengan manajemen).
Dan punya istri, keturunan jawa tengah ...ehem (kalau ini mungkin tidak nyambung)
Khusus untuk masalah keilmuwan, penulis menyarakan ini harus expert terus meningkat.

Wahyudin.HB : Pemerhati sosial, baru untuk keperluan pribadi, Besar dikalangan Nahdliyin tetapi cara berpikir mencoba lebih realistis dan agamis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar